Home » All posts
Minggu, 01 Juli 2018
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI DAUN SEREH
LAPORAN
PRAKTIKUM FITOKIMIA
PERCOBAAN KE 5
(LIMA)
ISOLASI DAN
IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI
DAUN SEREH
DAUN SEREH
( Cymbopogon
winterianus )
Nama
:
Nurani Puji Pangestuti
NIM : 1606067040
Kelompok :
A6
Hari,
Tanggal Praktikum : Senin, 4 Juni
2018
Dosen
Pembimbing : Dian Ratna Rianti, M.Sc., Apt
LABORATORIUM
FITOKIMIA
AKADEMI
FARMASI INDONESIA YOGYAKARTA
2018
- TUJUAN
Mahasiswa dapat memahami prinsip isolasi minyak
atsiri dan dapat mengerjakan isolasi beserta identifikasinya dengan
kromatografi lapis tipis.
- DASAR TEORI
Morfologi sereh wangi (Cymbopogon winterianus Jowitt)
Sereh wangi (Cymbopogon winterianus Jowitt) merupakan
tanaman berupa rumput-rumputan tegak, dan mempunyai akar yang sangat dalam dan kuat,
batangnya tegak, membentuk rumpun. Tanaman ini dapat tumbuh hingga tinggi 1 sampai
1,5 meter. Daunnya merupakan daun tunggal, lengkap dan pelepah daunnya
silindris, gundul, seringkali bagian permukaan dalam berwarna merah, ujung
berlidah, dengan panjang hingga 70-80 cm dan lebar 2-5 cm (Segawa, 2007).
Klasifikasi tanaman sereh wangi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi :
Angiospermae
Kelas :
Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Suku : Poaceaae
Marga :
Cymbopogon
Jenis :
Cymbopogon winterianus Jawitt ex Bor
Khasiat
sereh wangi
Serehwangi (Cymbopogon
winterianus Jowitt) sebagai tanaman obat tradisional, akarnya berkhasiat
sebagai peluruhair seni, peluruh keringat, peluruh dahak (obat batuk), obat
kumur,dan penghangat badan. Daunnya sebagai obat masuk angin, penambahnafsu
makan, pengobatan pasca melahirkan, penurun panas dan peredakejang (Wibisono,
2011).
Kandungan
minyak atsiri
Minyak atsiri dari sereh wangi
didapatkan dengan cara penyulingan dari daun dan batang sereh segar dengan
metode destilasi uap dengan kandungan minyak atsirinya 0,6 -1,2 % (Sahroel,
2009). Kandungan utama dari minyak atsiri yaitu sitronellal, sitronellol,
geraniol, dan sitral. Jumlah kandungan senyawa yang terkandung berkaitan juga
dengan spesies tanamannya. Jenis Cymbopogon winterianus Jowitt memiliki
kandungan sitronellal dan geraniol yang paling tinggi (Arswendiyumna, 2006).
Destilasi
Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya dengan
berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu
campuran dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya tersebut mempunyai perbedaan
titik didih cukup tinggi. Proses destilasi terdiri atas dua bagian, yaitu
bagian pertama terdiri dari uap yang terembunkan disebut destilat, dan bagian
kedua adalah cairan yang tertinggal disebut residu, yang susunannya lebih
banyak komponen yang sukar menguap (Raditya, 2008).
Dasar pemisahan pada destilasi adalah perbedaan titik didih komponen
cairan yang dipisahkan pada tekanan tertentu. Penguapan diferensial dari suatu
campuran cairan merupakan bagian terpenting dalam proses pemisahan dengan
destilasi, diikuti dengan cara penampungan material uap dengan cara pendinginan
dan pengembunan dalam kondensor pendingin-air (Yazid, 2005).
Prinsip dasar dalam proses destilasi yaitu dengan berdasarkan perbedaan
titik didih, senyawa dengan titik didih yang paling rendah akan terpisahkan
terlebih dahulu. Air pendingin dimasukkan dari ujung yang paling dekat dengan
adaptor, dan air keluar melalui ujung pendingin yang lain. Termometer dipasang
sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan titik didih senyawa yang sedang
dipisahkan. Ujung termometer diletakkan tepat pada posisi ujung pendingin
(Yuliarto, 2012).
Syarat utama pemisahan campuran cairan dengan cara destilasi adalah semua
komponen yang terdapat di dalam campuran haruslah bersifat volatil. Pada suhu
yang sama, tingkat penguapan pada masing-masing komponen akan berbeda-beda. Hal
ini berarti bahwa pada suhu tertentu, komponen yang lebih volatil dalam
campuran cairan akan lebih banyak membangkitkan uap. Sifat yang demikian ini
akan terjadi sebaliknya, yakni pada suhu tertentu fasa cairan akan lebih banyak
mengandung komponen yang kurang volatil. Jadi cairan yang setimbang dengan
uapnya pada suhu tertentu memiliki komposisi yang berbeda. Perbedaan komposisi
dalam kesetimbangan uap-cairan dapat dengan mudah dipelajari pada destilasi
pemisahan campuran alkohol dari air (Sutijan, dkk., 2009).
- ALAT DAN BAHAN
ALAT
1. Seperangkat alat
destilasi
2. Seperangkat alat
KLT
BAHAN
1. Daun Sereh
(Cymbopogon winterianus)
2. Minyak
citronella
3. Aquadest
4. n-Heksan
5. Natrium Sulfat
6. Etil Asetat
CARA KERJA
1. ISOLASI
Timbang 1000 gram daun sereh
segar yang dirajang dengan ukuran +- 1 cm, masukan ke dalam labu destilasi
stahl kemudian tambahkan air sebanyak 300 ml dan batu didih. Hubungkan labu
dengan pendingin dan alat penampung berskala. Didihkan labu dengan pemanasan
yang sesuai selama 3 jam atau sampai minyak penampung berskala. Minyak yang
diperoleh diukur untuk mengetahui rendemen, kemudian pisahkan minyak atsiri
dari air dengan bantuan natrium sulfat.
2. IDENDITIFIKASI
Kromatografi lapis tipis:
a. Fase diam :
Silika gel GF 254
b. Fase gerak :
n-heksan : etil asetat (13:1, 7:3, 4:6)
c. Cuplikan :
Minyak atsiri hasil destilasi dan minyak citronella
d. Deteksi : UV 254
- HASIL


- PEMBAHASAN
Percobaan yang telah dilakukan
adalah percobaan kelima yaitu isolasi dan identifikasi minyak atsiri dari daun
sereh (Cymbopogon winterianus ). Tujuan praktikum kali ini yaitu dapat memahami
prinsip isolasi minyak atsiri dan dapat mengerjakan isolasi beserta identifikasnya
dengan kromatografi lapis tipid. Isolasi dilakukan dengam metode destilasi.
Pada percobaan ini, dilakukan isolasi
minyak atsiri dari daun sirih. Isolasi minyak atsiri ini dilakukan menggunakan
metode destilasi yang didasarkan pada perbedaan titik didih dari sampel dan
pelarut yang digunakan. Pada metode ini akan terjadi penguapan dan pendinginan
larutan hingga diperoleh destilat yang kemudian akan dipisahkan melalui metode
ekstraksi. Metode ekstraksi ini didasarkan pada perbedaan distribusi antara
sampel dan pelarut yang disebabkan oleh perbedaan kepolaran senyawa. Pada percobaan tahap pertama yang dilakuka yaitu
persiapan sampel yang akan digunakan. Sampel yang digunakan yaitu daun sereh
sebanyak 1000 gram yang sudah dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu yaitu simplisia
dalam keadaan basah. Sampel dipotong potong menjadi ukuran yang lebih kecil
dengan tujuan agar pori-porinya mudah di jangkau oleh air sehingga minyak
atsiri akan lebih cepat keluar dari pori pori sereh ( luas permukaan bertambah
) dan
menghasilkan mimnyak atsiri yang lebih banyak. Tahapan pertama yang dilakukan yaitu
dipersiapkan sampel yang akan digunakan. Daun sirih dipotong kecil-kecil dan ditimbang
sebanyak 50 gram. Daun sereh yang sudah dipotong
potong dimasukan dalam labu destilasi. Kemudian ditambahkan pelarut air ke dalam labu destilasi. Mnghubungkan labu demngan pendingin dan alat
penampung (wadah destilat). Mendidihkan labu dengan pemanasan yang sesuai (pada
praktikum digunakan suhu 100oC yaitu sesuai dengan titik didih air)
selama 3jam atau sampai minyak atsiri terdestilasi secara sempurna dan tidak
bertambah lagi dalam bagian wadah atau penampung berskala. Pelarut yang digunakan adalah air, karena air memiliki
sifat kepolaran yang berbeda dengan minyak atsiri sehingga minyak atsiri
sehingga akan mudah dipisahkan dari destilat. Suhu
di ukur menggunakan termometer di pasang sedemikian rupa sehingga dapat menunjukan
rtitik didih senyawa yang ingin dipisahkan. Air dan minyak atsiri tidak saling melarutkan, selain itu titik didih air
lebih kecil dari minyak atsiri sehingga uap air akan mendorong minyak sirih
untuk lepas dari pori-pori sirih dan menghasilkan destilat. Destilasi merupakan teknik pemisahan atau pemurnian senyawa yang
didasarkan pada perbedaan titik didih dari masing-masing zat dalam campuran.
Pada metode destilasi akan terjadi penguapan dan pendinginan larutan secara
sekaligus. Saat larutan dipanaskan, larutan akan menguap karena telah melewati
titik didihnya. Uap yang dihasilkan ini kemudian akan mengalir ke dalam kondensor.
Ketika uap melewati kondensor, akan terjadi pendinginan sehingga uap berubah
kembali menjadi larutan yang kemudian ditampung pada wadah destilat (Khopkar,
2003).
Pemanasan awal pada proses
destilasi berfungsi agar air terserap kedalam pori-pori yang dapat mengelurakan
minyak atsiri karena adanya tekanan osmotik. Destilat yang diperoleh kemudian dipisahkan melalui metode ekstraksi.
Ekstraksi merupakan salah satu teknik pemisahan larutan yang didasarkan pada
perbedaan distribusi zat terlarut pada pelarut yang tak saling campur. Adapun
tujuan dari ekstraksi yaitu untuk memisahkan suatu komponen dari campurannya
(Soemarto, 1987; Day dan Underwood, 2002). Setelah
ektraksi dilakukan maka akan terbentuk dua lapisan pada campuran. Destilat yang
dihasilkan berupa air dan minyak, dimana minyak atsiri berada di lapisan atas
karena masa jenisnya yang lebih kecil dari air. Berat jenis minyak atsiri
berkisar antara 0,800-1,180. Bobot jenis merupakan salah satu kriteria penting
dalam penentuan mutu dan kemurian minyak atisiri (Gunther, 1987). Besar bobot
jenis pada minyak atsiri sangat dipengaruhi dari ukuran bahan dan lama
penyulingan yang dilakukan. Minyak atsiri yang dihasilkan mengeluarkan bau yang
khas dari sereh, keruh dan terdapat lapisan minyak didalam campuran sampel dengan
air. Hasil tersebut dimasukan dalam
corong pisah. Minyak atsiri dipisahkan
dari air ditambahkan dengan Natrium sulfat Anhidrat yang berfungsi untuk
mengikat air sekaligis menjernikan dari hasil destilat diperoleh minyak atsiri
yang murni, penambahan dilakukan sampai Natrium Sulfat Anhidrat tidak larut
lagi. Randemen dapat dihitung dengan rumus:

Randemen:
Randemen dapat dihitung apabila massa sampel (sereh) sudah diketahui dan
volume serta massa minyak atsiri yang diperoleh juga sudah diketahui, hasil
menunjukan bahwa minyak astiri yang dihasilkan hanya dalam jumlah terbatas dan
tidak dapat dihitung jumlah minyak astiri yang terbentuk. Hasil yang diperoleh
tidak sesuai dengan literatur. Berdasarkan literatur, Randemen rata-rata minyak
sereh sekitar 0,6 - 1,2 % tergantung jenis sereh wangi serta penanganan dan
efektifitas penyulingan (sahroei, 2009). Ketidaksesuaian tersebut dikarenakan
proses destilasi yang tidak maskimal, kurang teliti dalam pengukuran volume dan
penimbangan massa daun sereh serta bagian sereh yang digunakan pada pratikum
adalah bagian daun dimana kadar minyak atsiri pada bagian daun lebih sedikit
dibandingkan pada bagian batang sereh, sehingga kadar air bahan masih tinggi,
juga lingkungan dapat mengubah jumlah dan kualitas minyak atsiri yang
dihasilkan. Pada tempat yang terbuka selama penyimpanan dan isolasi menyebabkan
sejumlah minyak atsiri akan menguap disertai pula oleh proses oksidasi yang
menyebabkan penurunan mutu (Ketaren, 1987). Faktor kimia disebabkan oleh
komponen minyak atsiri sebagian besar terdiri dari senyawa yang mengandung
hetero atom oksigen serperti alkohol, aldehid dan oksida. Adanya hetero atom
menyebabkan senyawa-senyawa tersebut mudah terurai (Agusta, 2000).
Setelah mendapatkan hasil isolasi dilakukan identifikasi bertujuan untuk
memastikan bahwa senyawa yang telah dipisahkan adalah senyawa murni atau
membuktikan adanya suatu komponen yang dituju dalam sampel. Pada identifikasi
dilakukan pentotolan terhadap hasil isolasi pada silica gel GF 254 dengan satu
titik. Pentotolan secara berulang dengan pembanding cuplikan standar minyak
citronella juga ditotolkan segaris dengan senyawa tersebut pada satu titik.
Kemudian dikembangkan tidak melewati tanda batas yang telah dibuat yaitu jarak
1 cm dari bawah dan 1 cm dari atas silica gel, digunakan n-heksan : etil
asetat( 13:1, 7:3, 4:6) sebagai fase gerak yang nantinya akan menghasilkan noda
atau spot pada silica gel setelah dilakukan pengembangan dan noda yang timbul
akan diamati dengan lampu UV 254/366 nm, sehingga dapat menentukan nilai RF standar
dengan RF senyawa hasil destilasi. Namun dalam pratikum tidak dilakukan uji
kromatografi lapis tipis terhadap sediaan/ hasil destilasi. Identifikasi
dilakukan dengan membandingkan minyak atsiri hasil destilasi dengan minyak
citronella (cuplikan standar) dan dengan air, kemudian menteteskan
masing-masing pada 1 potong kertas saring. Minyak atsiri hasil destilasi
dikatakan murni apabila menunjukan hasil yang serupa dengan cuplikan standar
minyak cironella dan bukan merupakan air. Hasil menunjukan teksur tetesan
minyak atsiri hasil destilasi serupa dengan cuplikan standar minyak citronella
yaitu membahasi kertas saring dan tidak menimbulkan kerutan pada kertas saring,
lain halnya dengan air saat diteteskan timbul kerutan pada kertas saring.
Minggu, 27 Mei 2018
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI PIPERIN DARI FRUCTUS PIPERIS NIGRI
LAPORAN
PRAKTIKUM FITOKIMIA
PERCOBAAN
KE IV (EMPAT)
ISOLASI
DAN IDENTIFIKASI PIPERIN DARI FRUCTUS
PIPERIS
NIGRI
Nama
:
Nurani Puji Pangestuti
NIM : 1606067040
Kelompok :
A6
Hari,
Tanggal Praktikum : Senin, 7 Mei 2018
Dosen
Pembimbing : Dian Ratna Rianti, M.Sc., Apt
LABORATORIUM
FITOKIMIA
AKADEMI
FARMASI INDONESIA YOGYAKARTA
2018
- TUJUAN
Mahasiswa dapat
memahami prinsip dan melakukan isolasi
dengan
piperin
dari Piperis nigri
fructus atau Piperis albi fructus
beserta analisis kualitatif hasil isolasi
dengan metode kromatografi lapis tipis.
- DASAR TEORI
Soxhlet
Merupakan metode ekstraksi yang memanfaatkan pemanasan untuk
destilasi pelarut sehingga terjadi
sirkulasi pelarut melalui serbuk simplisia. Metode ini efisiensi dalam
pemanfaatan pelarut tetapi berisiko pembentukan artefak akibat penggunaan panas. Pelarut yang
digunakan pada metode Soxhlet minimal cukup untuk 2 kali penyarian. Proses
ekstraksi dengan Soxhlet dihentikan apabila warna pelarut yang ada didalam Soxhlet
sama seperti warna pelarut awalnya.
Piperin
Piperin
merupakan senyawa yang tahan terhadap panas dan piperin yang digunakan untuk
ekstraksi berupa serbuk halus, tujuannya
supaya didapat sari dengan dengan kadar yang optimal karena jika suatu sampel ukuran
partikelnya diperkecil maka
partikel mudah terbasahi oleh solvent sehingga senyawa dalam simplisia mudah
tersari. Proses isolasi
piperin dari ekstrak lada hitam dapat dilakukan dengan metode rekristalisasi.
Secara hartlah rekristalisasi berarti pembentukan kristal kembali. (Harborne.
J.B., 1987).
Kromatografi
Kromatografi
adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu. Pada dasarnya
semua cara kromatografl menggunakan dua fase yaitu fasa tetap (stationary) dan
fasa gerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua fasa
tersebut.
Cara-cara
kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat dari fasa tetap, yang
dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa tetap berupa zat padat maka
cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal
sebagai kromatografi partisi. Karena fasa bergerak dapat berupa zat cair atau
gas maka semua ada empat macam sistem kromatografl yaitu kromatografi serapan
yang terdiri dari kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar ion,
kromatografi padat, kromatografl partisi dan kromatografl gas cair serta kromatografi
kolom kapiler (Hostettmann, K., dkk., 1995).
Tumbuhan
lada (Piper Ningrum L) termasuk tumbuhan semak atau perdu dan sering kali
memenjat dengan akar-akar pelekat. Tumbuhan lada ini dikenal dengan beberapa
nama antara lain piper, lada, merica dan sakang. Dari perlakuan terhadap buah
lada dapat diperoleh lada hitam dam lada putih. Lada hitam diperoleh dari buah
lada yang belum masak, dikeringkan bersama kulitnya hingga kulitnya keriput dan
berwarna hitam. Lada putih berasal dari buah yang masak dan kulitnya sudah
dihilangkan dan dikeringkan sehingga warnanya putih.
Berdasarkan system
klasifikasi dari Cronquist dalam pasuki (1994) klasifikasi tanaman lada adalah
sebagai berikut:
Divisi :
Magndrophyta
Kelas :
Magnolipisida
Anak kelas :
Magnolidae
Bangsa :
piperales
Suku : Piperaceae
Marga : Piper
Spesies : Piper Ningrum L
Lada
mengandung minyak atsiri, pinena, kariofilena, lionena, filandrena alkaloid
piperina, kavisina, piperitina, piperidina, zat pahit dan minyak lemak. Lada
memilki rasa pedas, berbau khas dan aromatik. Rasa pedas dari buah lada hitam
90-95% disebabkan oleh adanya komponen trans piperin yang ada dalam buah kering
yang kadarnya 2-5 % dan terdiri atas senyawa asam amida piperin dan asam
piperinat. Rasa pedas piperin masih ada meskipun diencerkan 1:200.000. rasa
pedas juga disebabkan oleh adanya kavisin yang merupakan isomer basa piperin. Kandungan lain yang
menghasilkan bau aromatic adalaah minyak atsiri dengan kadar 1-2,5 % yang
mengandung piperanol, eugenol, safrol, metal eugenol dan miristissin. Lada
hitam juga mengandung monoterpen dan seskuiterpen.
Piperin
(1-piperilpiperidin) C17H19O3N merupakan alkaloid dengan inti piperidin.
Berikut struktur piperin:
Piperin berbentuk
Kristal berwarna kuning dengan titik leleh 127-129,5 , merupakan basa yang tidak optis aktif,
dapat larut dalam alcohol, benzene, eter
dan sedikit larut dalam air. Hidrolisis
piperin dapat dilakukan dengan menggunakan larutan 10 % KOH-etanol menjadi asam
piperat.
Metode
yang digunakan untuk mengisolasi piperin dari lada hitam adalah ekstraksi
soxhlet yang merupakan pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan
dengan menggunakan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan
larut yang berbeda dari
komponen-komponen dalam campuran/pemilihan jenis pelarut didasarkan atas
beberapa factor, yaitu selektivitas, kelarutan, kemampuan tidak saling campur,
reaktivitas, titik didih, dan kriteria lainnya (Bernasconi, 1995). Ekstraksi
serbuk kering jaringan tumbuhan dapat dilakukan secara maserasi, refluks, atau
sokletasi dengan menggunakan pelarut yang tingkat kepolarannya berbeda-beda
Proses isolasi dengan sokletasi memanfaatkan sirkulasi pelarut dalam sistem
secara berulang sehingga penggunaan
pelarut lebih efektif.. Oleh karena itu, pada penelitian proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode
sokletasi. Dalam proses sokletasi pelarut diuapkan ke dalam labu soxhlet dan
turun secara berkala sesuai dengan titik didih pelarut sehingga terjadi
pergantian pelarut secara berkala (Tonius et al, 2016).
- ALAT DAN BAHAN
ALAT
1. Alat Penyari Soxhlet
2. Seperangkat alat KLT
BAHAN
1. Piper nigrum
2. Etanol 96%
3. KOH etanolik 96%
4. Diklorometana
5. Etil Asetat
- CARA KERJA
1.
EKSTRAKSI DAN
ISOLASI
Timbang 30 gram serbuk merica, masukkan kedalam alat penyari soxhlet yang
telah dipasang kertas saring, kemudiaan tambahkan etanol 96% paling sedikit
sebanyak 2 kali sirkulasi (120ml). Jangan lupa untuk menambahkan batu didih,
penyarian dilakukan selama 2 jam dengan kecepatan 6-8 sirkulasi perjam. Setelah dingin, pisahkan sari dari
bagian yang tidak terlarut dengan penyaringan melalui kertas saring. Filtrat
yang diperoleh diuapkan dengan rotary
evaporator atau konsistensi kental. Kemudian
tambahkan 10 ml KOH-etanolik 10 sambil
diaduk-aduk sehingga timbul endapan. Setelah
mengendap, pisahkan sari dari bagian
yang tidak larut melalui glass wool. Sari jernih yang didapat didiamkan dalam almari es sampai
hari praktikum yang akan datang, atau sampai pembentukan kristal optimal.
2.
PERMURNIAN
Kristal
yang timbul dipisahkan, dicuci dengan etanol 96% (dingin) dan dikeringkan dalam almari
pengering pada suhu 40oC selama 30-45 menit kemudian disimpan dalam
eksikator yang dilengkapi kapur tohor. Kristal yang diperoleh ditimbang dan
diidentifikasi dengan KLT.
3.
IDENTIFIKASI
Ambil sedikit
padatan pada ujung spatel kecil, larutkan dalam etanol. Larutan siap dianalisis
secara kualitatif dengan kromatografi lapis tipis dengan kondisi sebagai
berikut :
a. Fase diam : Silika Gel GF 254
b. Fase gerak : diklorometana
: etil asetat ( 75:25 )
c. Cuplikan : Larutan
sampel
d. Deteksi : UV 254,
disemprot dengan annisaldehid asam sulfat dan dipanaskan 110oC selama 10 menit.
Catat Harga Rf yang diperoleh.
- HASIL
Nama Simplisia :
Piperis Nigri Fructus
Metode ekstraksi :
Soxhletasi
Jumlah pelarut yang diperlukan : 350 ml
Jumlah siklus : 6 kali
Randemen ekstrak : -
Pemerian Ekstrak :
Warna : -
Aroma : -
Bentuk/tekstur : -
Waktu yang diperlukan
Siklus pertama : 53 menit
Siklus kedua : 18 menit
Siklus ketiga : 12 menit
Siklus keempat : 17 menit
Siklus kelima : 6 menit
Siklus keenam : 30 menit
Hasil Pengamatan dengan
Kromatografi :
Fase gerak : Diklorometana : Etil asetat ( 75:25 )
Fase diam : Silika Gel GF 254
Cuplikan : Larutan sampel
Deteksi : UV 254, disemprot dengan annisaldehid asam sulfat dan
dipanaskan
110o C selama 10 menit.
- PEMBAHASAN
Pada
percobaan, dilakukan uji isolasi piperin dari Piperis Nigri digunakan sampel serbuk merica pada praktikum.
Tujuan dari percobaan kali ini adalah
untuk dapat memahami prinsip dan melakukan isolasi piperin dari Piperis nigri fructus beserta
analisis kualitatif hasil isolasi dengan
menggunakan metode
Kromatografi Lapis Tipis. Isolasi dari piperin
pada sampel merica menggunakan metode sokletasi.
Sokletasi
adalah metode pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyarian berulang
menggunakan pelarut tertentu sehingga seluruh komponen dapat terisolasi.
Prinsip dari sokletasi ialah penyarian berulang sehingga hasil yang didapat
sempurna dan pelarut yang digunakan relatif lebih sedikit. Bila proses penyarian telah selesai, maka pelarut
akan diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi
menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa
organik yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang
tidak diinginkan. Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan
cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontinu akan
membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam
labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut yang telah membawa
senyawa kimia pada labu distilasi diuapkan dengan rotari evaporator sehingga
pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu
zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan
(Drastinawati, 2013).
Pada
alat sokletasi, terdiri dari beberapa komponen diantaranya kondensor,
timbal/slongsong, pipa f, sifon, dan labu alas bulat. Kondensor berfungsi
sebagai pendingin balik dan juga untuk
mempercepat proses pengembunan. Uap dari pelarut yang telah melewati pipa f
akan di embunkan pada kondensor dan berubah menjadi tetesan dan jatuh pada
sampel. Pipa f berfungsi sebagai tempat lewatnya uap bagi pelarut yang menguap dari proses penguapan.
Sifon berfungsi sebagai indikator
perhitungan siklus dimana bila pada sifon telah penuh larutan maka akan
jatuh ke labu alas bulat dan menandai telah terjadi 1 siklus. Timbal/slongsong
berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang akan diambil zatnya dan labu alas
bulat berfungsi sebagai wadah untuk pelarut dan senyawa yang telah tersari.
Pada isolasi piperin, digunakan metode sokletasi dikarenakan terdapat beberapa
kelebihan pada metode tersebut. Pada isolasi piperin dapat menggunakan pelarut
etanol yang mudah menguap sehingga sesuai bila digunakan metode sokletasi
dimana pada metode tersebut pelarut
harus dapat dengan mudah menguap agar dapat menyari sampel pada tabung
selongsong. Selain itu, dengan penggunaan sokletasi, pelarut yang digunakan
tidak terlalu banyak dan tidak mudah jenuh karena setiap kali selesai menyari,
pelarut akan diuapkan kembali dari labu alas bulat dan meninggalkan senyawa tersari
yang memiliki titik didih yang berbeda dari pelarut. Hal ini menyebabkan
senyawa yang dapat tersari akan lebih maksimal. Proses isolasi dengan sokletasi
juga memakan waktu yang lebih sedikit dibandingkan metode lain seperti maserasi
karen tidak perlu melakukan perendaman hingga berjam-jam. Selain itu, senyawa
piperin merupakan senyawa yang tahan terhadap pemanasan sehingga cocok bila digunakan metode sokletasi. Pada
percobaan, digunakan sampel serbuk merica
sebanyak 30g. Digunakan serbuk sampel karena ukuran kecil pada sampel
akan memperluas permukaan kontak dengan penyari semakin besar dan senyawa aktif
dapat tersari dengan lenih mudah. Sampel dimasukkan
ke dalam kertas saring dan ditaruh pada pipa slongsong yang berfungsi sebagai
tempat menaruh sampel. Hal ini dilakukan agar serbuk merica tidak menyumbat
pipa sifon dari alat soxhlet sehingga proses ekstraksi dapat berlangsung dengan
lancer. Metode soxhlet dipilih karena pelarut yang digunakan
lebih sedikit (efisiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon
selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi waktu yang digunakan lebih cepat. Ektraksi dilakukan dengan penambahan pelarut etanol 96%.
Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman
piperis nigrii yaitu etanol 96% akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam etanol 96% di
luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan
berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif
di dalam dan di luar sel. Pada
labu alas bulat dilakukan penambahan batu didih yang berfungsi mempercepat proses
pemanasan juga berfungsi menghomogenkan suhu panas pada seluruh labu sehungga
etanol lebih mudah menguap.
Proses
pemanasan dimana etanol akan kembali menguap
melewati pipa f menuju kondensor untuk kemudian diembunkan dan menetes pada
sampel merica dan akan terkumpul pada slongsong
hingga pipa sifon terpenuhi dan turun dari permukaan pipa menuju labu alas
bulat kembali membawa senyawa yang diekstrak yang menandai terjadinya satu
siklus. Pada dasarnya sirkulasi yang baik dilakukan selama 1 -
2jam dengan kecepatan 6 – 8 siklus untuk mendapatkan zat aktif yang lebih
banyak dan murni. Pada praktikum penyarian dilakukan kuramng lenbih dua jam yaitu
sebanyak 6 kali sirkulasi. Sirkulasi pertama membutuhkan waktu 53 menit, siklus
kedua 18 menit, siklus ketiga 12 meit, siklus keempat 17 menit, siklus kelima 6
menit, dan siklus terakhir 30 menit. Seharusnya perbedaan waktu sirkulasi
semakin lama semakin cepat karena suhu pada soxhket yang dipanaskan meningkat
sehingga mempercepat sirkulasi penyarian, namun dalam praktikum berbeda siklus
tidak turun disebakan suhu yang tidak stabil. Hasil
dari ekstraksi didinginkan dan disaring dengan kertas
saring dengan kertas saring untuk memisahkan sari dari bagian yang tidak larut.
Disisihkan ekstrak jernih sebanyak 3 ml dari sampel untuk di uji KLT. Sisanya diuapkan
dengan rotary evaporator sampai konsentrasi sampel berkurang didapatkan ekstrak
kental. Etanol yang meiliki titik didih rendah akan menguap meningkatkan zat
aktif pada rotary evaporator. Penguapan terjadinkarena adanya pemanasan yang
dipercepat oleh putaran labu alas bulat. Untuk menghilangkan etanol 96%
digunakan suhu 60 – 80oC. Ekstrak kental
yang telah diperoleh
kemudian di dinginkan kembali dan diberikan KOH etanolik 10% sebanyak 10ml.
Tujuan dari pemberian KOH etanolik 10% untuk
memisahkan senyawa resin dengan meminimalkan
pembentukan garam sehingga didapatkan alkaloida yang murni. Endapan dipisahkan
dengan penyaringan dengan kertas saring, kemudian didapatkan sari yang jernih. Sebelum
disaring terlebih dahulu didinginkan. Setelah
penambahan KOH etanolik, dilakukan penyaringan kembali dengan kertas saring
untuk memisahkan filtrat dan endapan resin akibat pemberian KOH etanolik. Penyaringan kembali bertujuan untuk memisahkan filtrat
dengan endapan resin akibat pemberian KOH etanolik.
Filtrat
jernih yang telah didapat kemudian dimasukkan ke dalam lemari es untuk proses kristalisasi. Tujuan dari proses
kristalisasi ialah untuk memurnikan sampel dari
pengotornya. Prinsip dari kristalisasi ialah senyawa padat akan mudah
terlarut dalam pelarut panas bila
dibandingkan pada pelarut yang lebih dingin. Jika suatu larutan senyawa
tersebut dijenuhkan dalam keadaan panas dan kemudian didinginkan, senyawa terlarut akan
berkurang kelarutannya dan mulai mengendap, membentuk kristal yang murni dan
bebas dari pengotor. Kemudian didiamkan
selama beberapa hari sampai diperoleh kristal. Kristal kemudian ditimbang dan
diperoleh randemen hasil tersebut.
Proses
selanjutnya ialah uji analisis kualitatif
dengan metode KLT. Kromatografi lapis tipis
merupakan salah satu metode kromatografi yang didasarkan pada prinsip adsorbsi. KLT dilakukan untuk
uji kualitatif berdasarkan perbandingan nilai Rf sampel dan standar. Prinsip
dari KLT ialah pemisahan yang terjadi didasarkan pada perbedaan distribusi dan migrasi senyawa
dimana kecepatan distribusi tergantung
pada interaksi antara senyawa dengan dua fase yang berbeda yaitu fase
diam dan fase gerak. Senyawa yang terikat kuat oleh fase diam akan tertahan dan
terelusi lebih lama dibandingkan dengan senyawa yang terikat lemah dimana
senyawa yang terikat lemah akan
lebih mudah terbawa oleh fase gerak dan terelusi pada plat. Daya ikatan antara
senyawa dan kedua fase didasari pada sifat polaritasnya. Digunakan KLT fase
normal yaitu fase diam cenderung
lebih polar yaitu silika gel GF 254
(Gypsum berfluoresensi pada panjang gelombang 254)
dan fase gerak yang
digunakan adalah campuran diklorometan: etil asetat (75:25). Digunakan fase
gerak tersebut karena sifat piperin yang
cenderung non polar sehingga akan terbawa oleh fase gerak sedangkan zat lain
dan pengotor yang memiliki polaritas berbeda akan tertahan oleh silika gel.
Sebelum proses elusi dimulai, chamber terlebih dahulu harus di jenuhkan dengan
pelarut/eluen. Untuk mengaktifkan
plat silika gel dimaksudkan menghindai kandungan air didalamnya juga untuk
menyamakan tekanan uap eluen dalam chamber agar dapat merata
sehingga proses elusi dapat seragam kecepatannya dan penjenuhan dilakukan untuk mengoptimalkan
proses pengembangan fase gerak. Plat KLT ditotolkan dengan 3 sampel yaitu
larutan jernih 3 ml hasil sokletasi awal, sampel kristal yang telah dilarutkan,
dan standar piperin. Plat yang sudah ditotolkan kemudian dimasukkan dalam
chamber dan dielusi hingga eluen mencapai batas atas plat (batas telah dibuat sebelum mulai penjenuhan)
kemudian dihitung nilai Rf nya untuk membandingkan hasil.
Hasil spot bercak yang muncul diamati melalui lampu UV 254. Noda dapat
berfluoresensi karena pada noda mengandung gugus kromofor. Untuk memperjelas/mempertegas
warna bercak dilakukan penyemprotan pada silika gel dengan annisaldehid asam
sulfat dan dipanaskann110oC. Setelah penyemprotan dapat terlihat
jelas spot yang terbentuk dimana spot menunjukan warna kuning atau orange.
Berdasarkan literature, nilai Rf standar dari piperin adalah 0,42 + 0,003
(Vyas et., al, 2011. Jika nilai RS dengan nilai Rf standar darisenyawa tersebut
dapat dikatakan memiliki karateristik yang sama/mirip. Sedangkan bilai nilai
Rfnya berbeda senyawa tersebut dapat dikatakan senyawa yang berbeda.
- KESIMPULAN
Mahasiswa
dapat memahami prinsip dan melakukan isolasi
dengan
piperin
dari Piperis nigri
fructus atau Piperis albi fructus
beserta analisis kualitatif hasil isolasi
dengan metode kromatografi lapis tipis.
Isolasi piperin dari sampel merica menggunakan metode soxhletasi dengan prinsip penyarian berulang
sehingga hasil yang didapatkan sempurna dan pelarut yang digunakan relatif lebih
sedikit. Bila proses penyarian telah selesai, maka pelarut etanol 96%
menghasilkan senyawa dalam bentuk kristal.
Identifikasi dilakukan dengan uji KLT dihasilkan nilai Rf sampel dibanding dengan RF sampel dan dibandingkan dengan Rf standar.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
